Su'udzon, No way
Rasulullah saw pernah mengingatkan dalam salah satu sabdanya yang artinya:
"Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata matai yang lain, janganlah saling mencari cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki, janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba hamba Allah SWT yang bersaudara" (HR.Muslim no.5604).
Begitupun Allah SWT melarang secara tegas di dalam Al-Qur'an yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima tobat, maha penyayang." (QS al-Hujurat:12).
Ayat di atas memerintahkan kepada kita untuk menjauhi kebanyakan berprasangka. Sebab sebagian besar tindakan berprasangka ada yang merupakan perbuatan dosa. Selain itu, dalam ayat ini juga terdapat larangan berbuat tajassus.
Kata tajassus jika diterjemahkan berarti mencari-cari kesalahan atau keburukan orang lain, yang biasanya merupakan efek dari prasangka yang buruk (suudzon). Dalam kamus Lisan al-‘Arab karya Ibnu Manzhur, kata tajassus berarti “bahatsa ‘anhu wa fahasha” yang artinya mencari berita atau menyelidikinya.
Ciri-ciri su'udzon.
4 ciri utama perbuatan suudzon, antara lain:
Pertama, tidak mengetahui secara langsung. Biasanya para pelaku suudzon ini ialah orang-orang yang tidak melihat atau mengetahui suatu fakta peristiwa secara langsung. Ia hanya mendapatkan kabar berdasarkan apa yang ia dengar ataupun baca di media sosial.
Kedua, pelaku suudzon biasanya sudah terbiasa berprasangka buruk. Sehingga dalam melihat suatu kejadian, hanya berdasarkan pikiran buruknya akhirnya terlahirlah prasangka buruk.
Inilah pentingnya menjauhi prasangka buruk dan memupuk dalam-dalam prasangka baik (husnudzon) agar kita tidak terbiasa berprasangka buruk. Manusia dikaruniai akal untuk berpikir sebaik-baiknya. Hal inilah yang membedakannya dengan makhluk lainnya seperti binatang.
Ketiga, tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Dalam hal ini, sekiranya sebuah ucapan, perkataan, ataupun sikap seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan, maka disebut suudzon (buruk sangka).
Buruk sangka yang seperti ini biasanya juga disebut dengan istilah tuhmah atau tuduhan. Ia menuduh orang lain tanpa adanya bukti nyata atas apa yang tidak diperbuat oleh yang tertuduh.

Komentar
Posting Komentar