We have Allah

 Kamu tahu?

Seharusnya kita menjadi manusia yang paling bahagia ketika punya Allah, mengapa?

Karena di saat kita melakukan kesalahan, Allah engga langsung nge-blacklist kita dari manusia. Kebayang ga kalo kita berbuat salah dikit aja secara ga sengaja ataupun di sengaja, Allah langsung gamau nerima kita? Duhh... sengsara bangetss!

  Tapi Allah engga seperti itu, Allah mau dan akan terus menerima kita mau sejelek apapun kita selagi kematian belum datang. Dan pada saat malaikat bilang ada satu orang yang "jelek banget amalannya" sekalipun itu, Allah tetep nyuruh malaikat untuk mencari kebaikan meskipun sekecil biji zarrah. Sampai kebaikan itu ketemu, lalu bener aja sekecil kebaikan si orang itu yang akhirnya bisa menyelamatkan dia. 

   Maka dari itu, berbahagialah ketika punya Allah yang maha penyayang, maha pengampun dan maha menerima. 

   Jika kita mengenal Allah, tahu Allah maka yang akan di dapatkan adalah ketenangan dalam diri maupun batik. Dan Allah itu paling senang kalo kita bergantung kepada-Nya akan tetapi kita nya yang suka bersandar sendiri seolah-olah merasa serba sendiri, merasa engga ada yang bisa di mintain bantuan, dan merasa gaada yang mau nolongin.

   Nah, nanti gaboleh gitu lagi, kita punya Allah. Jika kita tau dan benar-benar yakin bahwa Allah ada bersama kita, ga ada lagi yang menjadi kekhawatiran maupun beban. Dan coba bayangin di saat kita bersujud lalu mengeluhkan semuanya kepada Allah sambil menangis, lalu Allah datang kepada kita, merangkul kita, mengusap air mata kita sambil berkata "Kenapa kamu menangis wahai hambaku?" Wah.. sangat Maa syaa Allah bukan? Seperti salah satu ayat di Al Qur'an yang berbunyi "Laa tahzan innallaha ma'anna" (jangan bersedih sesungguhnya Allah bersama kita)

  Bila ingin di maknakan "Allah bersama kita" itu luass banget. Allah ada di saat kamu butuh ataupun engga. Allah ada di saat kamu sehat maupun sakit, Allah ada di saat kamu berbahagia ataupun sedih, Allah ada di saat kamh susah maupun senang, Allah ada di saat kamu lemah ataupun kuat. Tapi pertanyaannya, adakah kita untuk Allah? Sudahkah kita menyediakan waktu untuk bersama-Nya? 

Ini juga jadi nasihat buat aku pribadi juga agar mengutamakan-Nya di dalam kegiatan apapun itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah kematian nu'aiman